Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Inspirasi

I Have No Best Friend. Is It Wrong?

Adalah naluri manusia jika ia ingin diperlakukan secara spesial oleh seseorang, didengar keluh kesahnya, serta dibersamai selalu. Adalah sebuah kewajaran dimana ia ingin memiliki seseorang dimana ia bisa berbagi pengalaman, berbagi kebahagiaan, berbagi masalah, dan berbagi banyak hal dalam kehidupannya. What am I talking about? Am I talking about partner in relationship? Para pembaca pasti langsung teringat seseorang setelah membaca alinea pertama. Ya, seseorang yang spesial ini bisa jadi seorang kekasih, suami, istri, sahabat, atau siapapun yang menurut anda spesial. Sekali-lagi, tidak ada yang salah. “Tapi saya tidak punya teman baik dimana saya bisa berbagi keluh kesah dengannya. Apakah ada yang salah dengan saya?” Menemukan seseorang yang spesial untuk dijadikan best friend bukanlah hal yang mudah. Untuk menjadikan seseorang kekasih atau istri, well... tidak mudah juga sih. Tapi, setidaknya untuk menjadikan seseorang menjadi kekasih atau istri telah ad...

Menyontek dengan Alasan Darurat, Mungkinkah?

Pekan UAS sedang dan akan segera berakhir. Namun, ada satu fakta yang sungguh sedih harus kita terima bersama, “menyontek” yang merupakan tindakan tercela ternyata telah menjadi budaya tersendiri. Terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Memang, sungguh dilematis ketika seorang pelajar (atau mahasiswa) menghadapi suatu kekhawatiran bahwa ia tidak yakin takkan bisa menyelesaikan soal-soal ujian dengan benar tanpa “ngintip”. Seringkali dengan dalih “ini darurat”, perilaku nista itu dilakukan. Tapi, jika kita selalu men-“darurat”-kan setiap kesulitan yang kita hadapi, kapan kita dapat melalui kesulitan tanpa alasan “darurat”? Saya teringat dengan salah satu narasi yang saya lupa dengan sumbernya: “Jika ingin menghancurkan sebuah negara, tak perlu siapkan bom tercanggih atau peralatan perang lainnya. Permudah saja para pelajar untuk MENYONTEK. Jika seorang pelajar lulus dengan cara menyontek dengan alasan “darurat harus dapat nilai tinggi”, maka ia pun akan muda...

Rencana Jangka Panjang yang Tak Egois

“Apa rencana jangka panjangmu?” Jika seseorang bertanya dengan pertanyaan diatas, apa jawaban kalian? Apakah jawabannya “punya pekerjaan yang bagus”? Atau “punya suami/istri yang cantik dengan rumah gedongan”? Atau “muda foya-foya mati masuk surga”? Semua jawaban diatas tidak ada yang salah. Bahkan bisa dibilang itu adalah cita-cita yang baik. Namun, jika rencana jangka panjang kalian hanya terbatas pada hal-hal diatas, saya tidak ragu mengatakan bahwa kalian EGOIS. “APA? Gue egois? Enak aja lo bilang gue egois?” Coba aja deh liat baik-baik, apakah rencana jangka panjang kalian memiliki tujuan yang bermanfaat bagi orang lain? Ternyata “rencana jangka panjang” yang kalian miliki kebanyakan hanya untuk memenuhi hasrat pribadi, tak ada sedikitpun tujuan memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar kalian. Sebelum lebih jauh lagi, saya akan menyampaikan salah satu hadits yang sudah sangat populer: “ Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat...

Permohonan Maaf untuk Teman-Teman yang Merokok

Beberapa waktu lalu saya menulis berbagai tulisan di media sosial yang isinya mengkampanyekan hidup tanpa rokok. Tanpa bermaksud menyakiti orang lain, nampaknya ada pihak yang tersinggun dan langsung merespon. "Dengan merokok, kita dapat memunculkan inspirasi." Saya tak ingin membahas apakah merokok dapat memunculkan ispirasi atau tidak. Saya disini hanya ingin menyatakan minta maaf kepada orang-orang yang merasa tidak nyaman dengan berbagai tulisan saya yang memojokkan perokok. Motivasi saya menulis berbagai tulisan anti-rokok adalah ketika banyaknya orang yang tidak menghargai orang-orang di sekitarnya. Kita dengan mudah menemukan orang yang merokok di dalam bis umum ketika keadaan di dalam bis sesak penuh penumpang. Hal ini sungguh tidak menyenangkan bagi penumpang yang tidak merokok, termasuk saya. padahal, bahaya merokok udah banyak disosialisasikan di berbagai media. tapi, kalau sudah candu memang bahaya. Susahnya berhenti merokok saya dapati setelah ...

Sikap yang Tidak Berempati di Gerbong KRL

Saya telah beberapa kali maik KRL relasi Jatinegara-Bogor   saat sore hari. Semua gerbong selalu dipenuhi oleh penumpang dan saya selalu tak kebagian tempat duduk. Namun, saya sungguh kesal dengan beberapa orang yang tak memiliki rasa empati terhadap penumpang lainnya. Coba, disaat ada wanita yang masih berdiri pemuda yang duduk tak mempersilahkan si wanita untuk duduk. Padahal, apa gak kuat cowok berdiri ‘beberapa’ menit di kereta? Pemuda yang duduk di kursi dan tak peduli dengan yang lain memang buruk, namun masih ada yang lebih parah lagi. Ada beberapa penumpang sejak masuk kereta telah mengincar sisi pintu yang jarang dibuka di beberapa stasiun dengan posisi jongkok. JONGKOK. Duh.. posisi mereka membuat ruang berdiri penumpang lainnya semakin bekurang. Mereka tak peka dengan perasaan penumpang lainnya. Padahal, apa mereka yang jongok itu terlihat masih muda dan tak terlalu kepayahan. Ngantuk? Semua orang yang kelalahan pasti mengantuk. Tapi, apa hal itu menjadi pembenaran ...