Langsung ke konten utama

Postingan

Klub Cerita Dwita

Sahabat Kusayang Sahabatku Malang

Adakah disaat kalian merasakan kebosanan yang benar-benar tak berujung? Kini aku merasakannya. Apalagi dengan rutinitas monoton yang menjerat hidup. Sekolah-rumah-sekolah-rumah. Sungguh bosan. Keikutsertaanku di beberapa organisasi di sekolah pun tak mampu memecahkan kejenuhan hidupku, justru membuatnya semakin keruh dengan berbagai beban yang kutampuk. Misalnya saja sekarang. Sebagai ketua mading sekolah, kini aku kerap disalahkan oleh Pak Bayu ketika isi mading tetap sama dengan pekan lalu. Emang ini salah ketua? Tidak. “Anak-anak buahku” lah yang tak bekerja dengan benar. “Maaf ya, kita tak bisa bantu sekarang.” Tak apalah jika hanya seorang yang berkata seperti itu. Tapi, kalau tujuh dari sepuluh anggota mengatakan hal yang sama, itu sungguh menjengkelkan. Maka hanya ada tiga orang yang tersisa untuk menyelesaikan “mading dadakan” ini. “Pakai bahan-bahan yang udah ada aja. Tak usah lah cari-cari yang tidak ada,” Yusuf memberi usul yang sangat membantu. “Yasudah, c...

Aku, Novel, dan Modem Internet

Tiada hari tanpa internet. Pernyataan ini nampak berlebihan. Namun, di masa modern hampir seluruh aktifitas selalu membutuhkan internet. Mahasiswa yang ingin mencari artikel yang terkait tugas kampus, Ibu-ibu yang suka belanja dan membanding-bandingkan harga, bahkan anak-anak SD sekalipun kini membutuhkan internet. Namun, kebanyakan anak muda kini memanfaatkan kehebatan internet hanya terbatas pada media sosial. Mengunggah foto gaya alay, memperbaharui status galau yang seakan hidupnya adalah yang paling merana di dunia ini. Padahal, teknologi internet bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar update status setiap menit. “Aku kesepian, butuh teman nih.” “Dia tak dapat mengerti isi hatiku.” “Kuingin melupakanmu, namun aku tak bisa.” Alamak, piawai sekali anak muda kini merangkai kata. Kalau kamu mengumpulkan semua status yang pernah kamu tulis bisa jadi novel, diterbitkan, dapat uang deh. Hehe.... Hal itu tak pernah kusadari hingga kejadian ini menimpaku. Libur semester kali i...

Teknik Marketing dengan Cara Terbaru

Pernahkah kamu didatangi oleh orang yang datang kepadamu dan berkata, “Kamu beruntung!” sambil menawarkan suatu produk dengan harga miring? Atau kamu ditawari barang bagus yang diberi harga tinggi diawal penawaran namun nominalnya langsung terjun bebas dalam waktu yang tak lama. Kalau kamu pernah mengalaminya, selamat, kamu telah menjadi sasaran teknik marketing terbaru (yang baru aku sadari hari ini), memainkan hati konsumen dengan ‘keberuntungan’. Disini saya akan membagikan sedikit pengalamanku, temanku, dan keluargaku mengenai teknik marketing ini, yang seringkali menyita waktu dan kesabaran kita. 1. Memakai produk terkenal dapet keberuntungan Pengalaman ini dialami oleh ibuku. Suatu hari, seorang wanita datang kerumahku. Aku tak tahu bagaimana kronologinya, namun pada suatu sesi ‘seseorang’ itu memberi penawaran kepada ibuku untuk membeli penggorengan berkualitas tinggi seharga Rp. 50.000 karena ibuku menunjukkan bungkus salah satu merk penyedap masakan. Walah, ...